Taman Sundai, Jakarta Timur

Jakarta –Taman Sundai, ruang terbuka hijau (RTH) yang menjadi ikon Ibu Kota, tak luput dari berbagai tantangan dalam penataannya. Terletak di jantung Jakarta Timur, taman ini memiliki peran vital sebagai paru-paru kota dan ruang publik bagi masyarakat.

Berdasarkan data Dinas Kehutanan DKI Jakarta per Juli 2024, persentase RTH di Jakarta Timur masih jauh dari target 30%. Taman Sundai, meskipun terawat dengan baik, masih memiliki beberapa kendala yang harus diatasi untuk menjadi ruang publik yang ideal.

Salah satu faktor utama yang menghambat penataan RTH di Jakarta Timur adalah keterbatasan lahan. Lahan yang tersedia sering kali dialihfungsikan untuk pembangunan perumahan, industri, dan infrastruktur. Hal ini diperparah dengan minimnya kesadaran masyarakat akan pentingnya RTH.

Salah satu contoh upaya penataan RTH di Jakarta Timur adalah pengembangan Taman Sundai, yang terletak di Kelurahan Lubang Buaya. Taman ini dibangun di atas lahan bekas bantaran sungai yang kumuh, dan kini menjadi ruang publik yang asri dan bermanfaat bagi masyarakat sekitar.

Warga Cipayung yang selama 2 tahun terakhir tinggal di Jalan Kramat, Bambang (56), mengeluhkan kurangnya perawatan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di permukiman warga.

“RTH ini memang perlu tempat yang jauh dari keramaian, seperti pinggir jalan raya, yang berisik suara mesin, suara mobil segala macem. Di taman ini menurut saya paling tepat, karena apa? Pertama bebas dari polusi, dan suara-suara bising. Jadi RTH ini terasa menyenangkan menurut saya. Cuman tadi, perawatannya yang sangat-sangat minim gitu, terabaikan tentang itu.” katanya saat di wawancara, Minggu (14/7/2024).

Kurangnya perawatan RTH di Jakarta Timur menghadirkan kekhawatiran masyarakat. Minimnya pepohonan dan vegetasi membuat polusi udara semakin parah, berakibat pada kesehatan masyarakat. Ketersediaan RTH yang terbatas menghambat penyerapan air hujan, sehingga meningkatkan risiko banjir. Kurangnya tutupan lahan hijau memperparah efek rumah kaca, membuat suhu di Jakarta Timur semakin panas. Masyarakat kekurangan ruang publik yang nyaman untuk bersantai dan berekreasi.

“Ya, tadi menurut saya karena ini berupa taman ya. Terutama hiasan taman yaitu pohon-pohonan atau mungkin tambahan fasilitas yang lain. Seperti tanaman yang bisa membantu bisa tumbuh dengan baik, sehingga pengunjung-pengunjung itu kalo kesini tuh ngga kepanasan gitu, loh. Seperti itu,” ujarnya lagi.

Adanya taman-taman seperti RTH ini berarti adanya pemanfaatan lahan kosong seperti kolong tol, bantaran sungai, dan bekas terminal, diubah menjadi taman dan ruang hijau publik. Pemda juga melibatkan masyarakat dalam penataan dan pengelolaan RTH melalui program edukasi dan pemberdayaan masyarakat, seperti pelatihan berkebun dan pengelolaan sampah.

Selain itu, penataan ruang terbuka hijau (RTH) di Jakarta Timur masih menghadapi berbagai tantangan. Hal ini dirasakan oleh para pedagang yang berjualan di sekitar taman kota. Menurut Tuti (49) seorang pedagang kaki lima di Taman Sundai, Jakarta Timur, salah satu tantangan utama adalah kurangnya kesadaran masyarakat.

“Tamannya sering kotor dan tidak terawat,” keluhnya. “Banyak sampah berserakan dan rumputnya tidak dipotong.” ujarnya lagi.

Kurangnya edukasi dan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan dan kelestarian taman juga menjadi salah satu tantangan. Banyak pengunjung yang membuang sampah sembarangan dan merusak tanaman. Perlu ada edukasi yang lebih gencar kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga taman.

Upaya-upaya tersebut perlu diiringi dengan penegakan hukum yang tegas terhadap pelanggaran RTH. Masyarakat juga perlu diedukasi tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan. Penataan RTH di Jakarta Timur bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga seluruh elemen masyarakat. Dengan kerjasama dan komitmen bersama, Jakarta Timur dapat menjadi kota yang lebih hijau dan asri.

Meskipun demikian, Tuti (49) melihat adanya upaya dari pemerintah daerah untuk menata RTH di Jakarta Timur. “Baru-baru ini, taman di sini dibenahi dan ditambahkan beberapa fasilitas baru,” ungkapnya. “Saya berharap upaya ini dapat terus dilakukan sehingga taman menjadi lebih nyaman dan asri.”

Pembangunan Taman Maju Bersama (TMB) di empat lokasi di Jakarta Timur juga bertujuan untuk meningkatkan RTH. TMB adalah taman kolaboratif yang melibatkan masyarakat dalam perencanaan dan pengembangan, sehingga diharapkan dapat memenuhi kebutuhan komunitas sekaligus meningkatkan kualitas lingkungan.

“Sebenarnya sih masyarakat sangat mendukung ya, terutama memang karena banyak pengunjung. Terutama anak-anak yang kecil seperti gini ya, senang bermain. Kalo di tempat lain, orang tinggal di sini ditanya mau main kemana? Oh jauh sana tamannya, ngga mungkin, kan. Karena dari Pemerintah DKI sendiri banyak membuat RTH-RTH yang sifatnya itu dekat atau mungkin per kelurahan, per kecamatan itu ada. Seperti itu,” kata Tuti pedagang di taman Sundai dalam keterangan tertulis.

Upaya penataan RTH di Jakarta Timur perlu mendapatkan dukungan dari semua pihak, baik pemerintah, swasta, maupun masyarakat. Dengan komitmen dan kerjasama yang kuat, Jakarta Timur dapat menjadi kota yang lebih hijau, sehat, dan nyaman bagi warganya.

“Harapan saya ya tadi, harus bener-bener serius dalam soal perawatan. Sehingga nantinya itu taman bener-bener taman gitu. Artinya tuh tempatnya asri gitu, loh ya. Kedua mengenai masalah banjir disini kan dekat kali ya, kadang pas musim hujan tuh terjadi banjir. Banjir disini terjadi juga nih, tapi begitu banjir tidak ada cara bagaimana membuang airnya tuh. Jadi terendam disini beberapa hari gitu. Makannya para pegawai disini harus di training lagi, bagaimana merawat, bagaimana memperbaiki. Jadi itu sih, yang perlu diperhatikan lagi.” ungkap Bambang dengan penuh harap.

Dengan sinergi dan komitmen yang kuat, bukan hanya wajah Jakarta Timur yang akan berubah menjadi lebih hijau dan indah, tetapi juga kualitas hidup masyarakatnya pun akan semakin meningkat.

Mari kita jaga dan lestarikan RTH untuk masa depan yang lebih baik.

Penulis : Aura Ambia, Mahasiswi semester 2 Program Studi Jurnalistik, Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Post